Bagi seorang Muslim yang membaca
Al-Qur’an hendaknya melazimi adab-adab membaca Al-Qur’an yang diajarkan
Islam di dalam Al-Qur’an maupun as-Sunnah. Dengan melazimi adab berikut
ini Insya Allah bacaan Al-Qur’an kita akan menjadi ibadah yang diterima
Allah. Di antara adab mulia tersebut yaitu:
- Membaca Al-Qur’an dengan niat ikhlas untuk beribadah kepada Allah
Orang yang tidak ikhlas di dalam membaca
Al-Qur’an maka mereka termasuk dalam tiga golongan yang pertama kali
diseret dan dilempar ke nereka.
“…Sesungguhnya manusia pertama yang
diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah.
Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang
diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya :
‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab
: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.
Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan
seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan
(tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang
itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan
mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan
kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian
Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan
kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan
mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.’
Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan
seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya
dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah
yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar
menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya
(yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan
berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya
kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah
bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia
menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan
yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena
Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian
itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah
yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar
menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’’ (HR. Muslim)
- Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci dari hadats dan najis
Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya
Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada Kitab yang
terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang
yang disucikan.” (QS. Al-Waqiah [56]: 77-79)
Meskipun yang dimaksud oleh banyak ahli tafsir makna “al Muthoharun”
di dalam ayat ini adalah para malaikat. Namun banyak juga ulama yang
berdalil dengan ayat tersebut dan keterangan lain bahwa hendaknya tidak
menyentuh mushaf atau membaca Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci.
Inilah pendapat yang lebih selamat dan mendekati kebenaran.
- Dianjurkan menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an jika memungkinkan
- Mengawali bacaan Al-Qur’an dengan membaca “istiadzah” (perlindungan terhadap gangguan setan yang terkutuk.)
Allah ta’ala berfirman:
“Apabila kamu membaca Al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An Nahl [16]: 98)
Menurut jumhur ulama membaca Isti’adzah
saat membaca Al-Qur’an di luar sholat hukumnya sunnah. Adapun lafadz
isti’adzah menurut jumhur ulama adalah sebagai berikut:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“ A’udzubillahi minasy Syaithoni Rojim” / Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
- Membaca basmalah yaitu bacaan “Bismillahirohmanirrohim” di awal setiap surat kecuali surat at-Taubah.
Dijelaskan oleh sebagian ulama mengapa basmalah tidak dicantumkan di awal surat, karena surat tersebut berisikan baroah (pemutusan hubungan) antara kaum muslimin dengan orang kafir serta berisi tentang jihad dan perang terhadap orang kafir.
- Membaca al-Quran dengan penuh kekhusyu’an, tidak bersenda gurau dan tertawa-tawa.
- Membaca Al-Qur’an dengan cara tartil.
Allah berfirman: “…dan bacalah Al-Quran itu dengan cara tartil.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)
Maksud membaca dengan tartil adalah dengan seksama (perlahan-lahan) seraya memperhatikan hukum tajwid yang benar.
- Berusaha memperbagus bacaan Al-Qur’an.
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian” (HR. al-Baihaqi)
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
“Bukan golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an” (HR. al-Baihaqi)
Adapun maksud dari melagukan Al-Qur’an
adalah memperjelas dan memperbagus suara ketika membaca Al-Qur’an.
Sehingga bisa meraih kekhusyu’an dan menggugah jiwa yang mendengarkan.
- Memilih waktu dan tempat yang tepat dalam membaca Al-Qur’an.
Diantara waktu yang tepat untuk membaca
Al-Qur’an ketika dalam sholat di malam hari. Semakin mendekati sepertiga
malam semakin baik. Adapun tempat yang paling bagus yaitu di
masjid-masjid Allah.
Allah berfirman:
“Hai orang yang berselimut
(Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit
(daripadanya). (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu
sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al-Quran itu dengan
cara tartil (perlahan-lahan).” (QS. Al Muzzammil [73]: 4)
- Melakukan sujud tilawah jika membaca ayat-ayat sajdah.
Sujud tilawah adalah sujud setelah
membaca ayat-ayat sajdah (ayat-ayat yang diperintahkan bagi pembacanya
untuk sujud). Nabi bersabda:
إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ
فَسَجَدَ ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ : يَا وَيْلَهُ وَفِي
رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ يَا وَيْلِي أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ
فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ
النَّارُ
“Jika anak Adam membaca ayat
sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis.
Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia
pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan
untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim)
Sujud tilawah dilakukan dengan sekali
sujud. Adapun bacaan sujud tilawah adalah bacaan ketika sujud biasa di
dalam sholat (سُبْحَانَ رَبِيَ اْلأَعْلَى). Atau membaca doa. Banyak doa
yang beredar tentang doa sujud tilawah namun yang jelas-jelas shohih
adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ
وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ
سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Ya Allah untuk-Mu aku bersujud.
Dan kepada-Mu aku beriman. Dan untuk-Mu aku berserah diri. Bersujud
wajahku kepada yang menciptakan Wajahku bersujud kepada Penciptanya,
yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha
Suci Allah Sebaik-baik Pencipta)” (HR. Muslim)
- Bertadabbur terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang dibaca.
Allah ta’ala berfirman: “Ini adalah
sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shod [38]: 29)
- Berusaha menangis ketika membaca Al-Qur’an adalah terutama ketika membaca ayat-ayat tentang dahsyatnya adzab neraka.
- Tidak mengeraskan bacaan Al-Qur’an ketika didapati di sekitarnya ada orang yang berdoa atau sholat.
Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَقَدْ عَلَتْ
أَصْوَاتُهُمْ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ إِنَّ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ فَلْيَنْظُرْ مَا يُنَاجِيهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ
عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ
“Bahwasanya Rosululloh keluar
menemui manusia sementara mereka sedang sholat (di masjid) dan suara
bacaan Al-Qur’an mereka meninggi. Maka nabi berabda: “Sesungguhnya
orang yang sholat sedang berunajat kepada Robbya Yang Maha Mulia dan
Maha Tinggi maka hendaknya masing-masing memperhatikan munajatnya dan
janganlah sebagian mengeraskan suara di atas yang lain dalam membaca
Al-Qur’an.” (HR.Ahmad)
- Menutup bacaan Al-Qur’an cukup dengan berhenti atau diam saja.
Tidak menjadikan bacaan “shodaqollahul adzim/Maha Benar Allah (dengan segala firman-Nya)”
sebagai bacaan yang senantiasa dibaca setiap kali selesai membaca
Al-Qur’an. Sehingga terkesan bahwa bacaan tersebut merupakan bacaan
khusus dalam mengakhiri bacaan Al-Qur’an
- Disunnahkan berdoa ketika menghatamkan Al-Qur’an dengan doa-doa kebaikan.
Hal ini sebagaimana atsar/riwayat shohih
dari Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Ad Darimi bahwa Anas ketika
ia menghatamkan Al-Qur’an maka ia mengumpulkan keluarganya dan berdoa.”
- Meletakkan Al-Qur’an di tempat yang layak dalam keadaan tertutup.
Sebaiknya di letakkan di tempat yang
bersih, rapid an lebih tinggi. Jangan sampai meletakkan al-Qur’an
berceceran di lantai. Hal tersebut demi memuliakan kitabullah. Jika buku
kesayangan kita saja kita simpan dan letakan di tempat yang layak.
Tentu kitabllah jauh lebih dari itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar